Gedbinlink’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Eurofighter Typhoon Mei 15, 2009

Diarsipkan di bawah: Tek. Lingkungan — gedbinlink @ 2:05 am
Tags:

Eurofighter Typhoon

I. Pendahuluan

Eurofighter adalah program sistem udara pesawat militer Uni Eropa, sistem ini dibuat dengan mengintegrasikan secara optimal antara mesin dan manusia. Karena teknologi dan ergonominya membuat eurofighter typhoon sebagai pesawat tempur yang paling hebat performanya. Eurofighter typhoon adalah pesawat tempur dengan mesin ganda multi-role canard-delta yang didesain dan dibuat pada tahun 1983 oleh gabungan pabrik pesawat Eropa, Eurofighter Gmbh. Penerbangan perdana dilakukan pada 27 Maret 1994 dengan nama pesawat tempur Eurofighter EF 2000 yang kemudian berganti nama menjadi Erofighter Typoon. Pembuatan pesawat ini pada kontrak produksi terakhir pada tahun 1997 melibatkan kerjasama 4 negara Eropa diantarnya UK (Inggris), Jerman, Italia, dan Spanyol.

Kelebihan yang dimiliki oleh eurofighter typhoon salah satunya dua sayap kecil di bagian dekat moncong pesawat yang berfungsi untuk membantu pilot melihat lawan dengan lebih jeli agar bisa melakukan manuver jarak dekat dengan cukup baik dan tepat dengan dilengkapi sistem control penerbangan (flight control system) yg berfungsi memberitahukan kinerja pesawat secara keseluruhan sekaligus berkoordinasi dengan komandan di darat. Pesawat ini juga dilengkapi pilot otomatis yg mampu membantu pilot memberikan tips siasat menghadapi pesawat musuh saat menghadapi situasi sulit ketika terjadi pertempuran. Typhoon juga memilik sensor dan captor dibadan pesawat yg secara cepat memberikan informasi soal keberadaan musuh atau akan munculnya serangan, sehingga pilot dapat segera mengantipasinya.

Spesifikasi Pesawat Tempur (Eurofighter Typhoon)

Panjang : 15.96 m

Sayap: 10.95 m , Area sayap: 50 m²

Tinggi: 5.28 m

Berat/Beban kosong: 11 000 kg ( 24,250 lb)

Berat/Beban terisi: 15 550 kg ( 34,280 lb)

Berat Max takeoff : 23 500 kg ( 51,809 lb)

Mesin : 2x EJ200
Kecepatan maksimum : Mach 2
Panjang runway : 700 meter
Kecepatan naik: 255 m/s

II Ergonomi pada Eurofighter Typhoon

Pesawat tempur Eurofighter Typhoon merupakan pesawat dengan dilengkapi kombinasi ketangkasan dan performanya menjadikannya sebagai salah satu pesawat tempur yang handal saat ini. Secara teknis, Typhoon dirancang sebagai pesawat dengan tekhnologi terbaru yg mampu mengakomodasi saat menghadapi segala situasi tempur. Kelebihan yang dimiliki oleh pesawat ini terutama kokpit atau mesin kendali dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan segi ergonomis berupa kenyaman dan kemudahan kepada pengemudi atau pilot sehingga menurunkan beban kerja dari pilot. kokpit typhoon dibuat dengan desain tombol semua kendali pada 1 tempat (kemudi) secara otomatis dan lebih sederhana.

Kokpit ini dilengkapi dengan tiga buah multi-function colour Head-Down Displays (MHDD) yang menampilkan informasi situasi taktis, sistem status dan peta digital. Untuk transfer data digunakan sarana data link dengan kemampuan dengan enambelas hubungan terminal dan dilengkapi dengan GPS. Semua bentuk yang tersedia dapat dilihat pada masing-masing MHDD dengan informasi yang detail dipilih melalui tombol yang tersusun di sekeliling MHDD, dengan X/Y cursor atau DVI. Selain itu pesawat dilengkapi dengan sistem penyelamatan darurat dengan kursi lontar Martin Baker Mk.16A menggunakan 2 roket.

Eurofighter typhoon memberikan kenyamanan kepada pilot berupa helm khusus dengan Striker Helmet Mounted Symbology System (HMS) yang dibuat oleh pihak BAE Systems. Layar saji HUD pada helmet dapat menampilkan berbagai data referensi penerbangan, pembidikan dan pemilihan senjata, serta gambar FLIR. Juga dilengkapi dengan TERPROM ground proximity warning system. Komponen helm meliputi: Outer Helmet, Inner Helmet, Optics Blast/Display Visor, Oxygen mask, Night Vision Enhancement Camera, Head Tracking System LED Position. Selain itu pilot dilengkapi dengan perlengkapan perlindungan diri.

Daftar Pustaka

www.eurofighter.com
www.eurofighter-typhoon.co.uk
www.vectorsite.net

http://quicklink.all.googlepages.com/eurofighter.htm

http://www.airforce-technology.com/projects/ef2000/ef20006.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Centre_stick_vs_side-stick

http://arindamsdefenceideas.blogspot.com/

 

Riset Februari 16, 2009

Diarsipkan di bawah: Biologi — gedbinlink @ 5:26 am
Tags:

PEMANFAATAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) UNTUK MENGAWETKAN PINDANG IKAN BANDENG (Chanos chanos)

Ramses Nita Hariawanty, Ema Rahmadani, Latifa Dinar

Penelitian dibiayai oleh Program PKM -Dikti

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian pengawetan pindang Ikan Bandeng (Chanos chanos) dengan menggunakan ekstrak Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Jeruk Nipis (C. aurantifolia) serta waktu perendaman yang mampu meningkatkan daya keawetan pindang Ikan Bandeng (C. chanos). Pemberian ekstrak jeruk nipis dilakukan terhadap ikan bandeng segar dalam berbagai konsentrasi (0%, 25%,50%,75% dan 100% v/v) dan waktu perendaman (0, 30, 60 menit). Pemindangan dilakukan selama 2-3 jam setelah diberi perlakuan perendaman ekstrak jeruk nipis. Pindang ikan bandeng kemudian disimpan di dalam wadah plastik, 3 ikan/boks dan disimpan dalam suhu ruangan selama lima hari. Pengamatan kualitas pindang bandeng dilakukan setiap hari , yang meliputi bau, rasa, warna, kekenyalan serta total koloni bakteri dan jamur yang tumbuh. Hasil menunjukkan bahwa terdapat penurunan kualitas pindang ikan bandeng yang diberi ekstrak jeruk nipis pada konsentrasi di bawah 100%. Pemberian ekstrak jeruk nipis pada konsentrasi 100% tidak mengubah warna serta tekstur ikan hingga hari ke-4 penyimpanan (α > 0,05), namun mengubah rasa serta bau (α < 0,05). Koloni bakteri mulai tumbuh pada hari ke-2 penyimpanan pindang ikan bandeng yang diberi ekstrak jeruk nipis konsentrasi 100% selama 60 menit. Pemberian jeruk nipis pada seluruh konsentrasi terbukti mampu menghambat pertumbuhan koloni jamur hingga hari ke-4 penyimpanan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak Jeruk Nipis (C. aurantifolia) dapat digunakan untuk mengawetkan pindang Ikan Bandeng (C. chanos) pada konsentrasi 100%.

Kata Kunci : Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia), Pindang, Bandeng (Chanos chanos),Pengawetan.



 

Mikroba Dalam Pangan Februari 16, 2009

Diarsipkan di bawah: Biologi — gedbinlink @ 3:46 am
Tags:

Makanan dapat terkontaminasi oleh berbagai bahan yang bersifat toksik bagi tubuh yang dapat membuat makanan tersebut tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Penyakit asal makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme dan dipindahsebarkan melalui makanan terjadi melalui dua mekanisme yaitu pertama, mikroorganisme yang terdapat dalam makanan menginfeksi inang sehingga menyebabkan penyakit asal makanan dan kedua, mikroorganisme mengeluarkan eksotoksin dalam makanan dan menyebabkan keracunan makanan bagi yang memakannya.

Salah satu kontaminan makanan yang penting untuk diketahui adalah mikotoksin. Mikotoksin adalah zat toksik atau toksin yang dikeluarkan oleh jamur atau fungi. Jamur merupakan mikroorganisme eukariotik, menghasilkan spora, tidak punya klorofil, dan berkembang biak secara seksual dan aseksual. Jamur tergolong menjadi 2 golongan yaitu kapang dan khamir. Kapang adalah jamur yang mempunyai filamen sedangkan khamir adalah jamur sel tunggal yang tidak mempunyai filamen. Jamur dapat bersifat parasit yaitu memperoleh makanan dari benda hidup atau bersifat saprofit yaitu memperoleh makanan dari benda mati .

Secara umum jamur berkembang biak dengan cara aseksul atau seksual. Spora aseksual dari jamur adalah konidiospora, sporangiospora, oidium, klamidospora dan blastospora. Sedangkan spora seksual dihasilkan dari peleburan dua nukleus, terbentuk lebih jarang, dan dalam jumlah yang sedikit dibandingkan dengan spora aseksual. Ada beberapa tipe spora seksual yaitu askospora, basidiospora, zigospora dan oospora.

Penyakit yang diakibatkan karena adanya mikotoksin disebut mikotoksikosis. Mikotoksin dapat mengkontaminasi pangan bila bahan pangan yang umumnya tanpa pengawet disimpan lama dalam kondisi lembab dan tidak disimpan dalam lemari pendingin, sehingga bahan pangan ini mudah menjadi media bagi pertumbuhan jamur (Makfoeld dalam POM,2001).

Tabel .1 Jenis mikotoksin dan pangan yang dikontaminasinya

Jenis mikotoksin

Bahan pangan yang dikontaminasi

Alfatoksin

Kacang-kacangan dan produk kacang padi, jagung, gandung, almond, dan jambu mete

Sterigmatosistin

Biji-bijian dan beras

Patulin

Sari buah apel

Luteoskirin

Beras, jagung, gandum, kacang-kacangan

Sitreoviridin

Beras

Trikotesena

Jagung

Asam Penisilat

Jagung

Botulinum

Daging, ikan, dan sayur-sayuran kaleng

Bila bahan pangan yang sudah terkontaminasi mikotoksin dikonsumsi, maka kemungkinan toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut dapat mengganggu kesehatan.

Tabel.2 Penyakit yang ditimbulkan oleh mikotoksin

Mikotoksin

Jamur penghasil

Penyakit yang ditimbulkan

Ergot alkaloid

Claviceps purpurea

Toksik pada saraf pusat, mengganggu kerja jantung

Alfatoksin

Aspergillus flavus, Aspergillus parasiticus

Toksik pada janin, penyebab mutasi sel tubuh

Patulin

Penicillium patulum

Iritan terhadap kulit, toksik pada janin

Sterigmatosistin

Aspergillus versicolor

Kanker hati dan gangguan ginjal

Luteoskirin

Penicillium islandicum

Toksik pada hati

Sitreoviridin

Penicillium citreoviride

Toksik pada sistem saraf

Trikotesena

Fusarium tricinctum

Toksik bagi sel tubuh

Asam penisilat

Penicillium puberulum

Penyebab kanker tulang

Botulinum

Clostridium botulinum

Toksik pada sistem sara


Selain mikotoksin terdapat beberapa mikroorganisme yang biasanya mengkontaminasi makanan, minuman dan obat tradisional. Mikroorganisme kontaminan yang diuji di laboratorium mikrobiologi adalah:

1. Kuman Coliform

Kuman Coliform merupakan segolongan besar dan heterogen kuman-kuman batang Gram negatif, yang dalam batas-batas tertentu mirip Escherichia coli. Kuman Coliform merupakan sebagian besar flora aerobik usus normal. Di dalam usus, umumnya kuman ini tidak menyebabkan penyakit dan bahkan dapat membantu fungsi usus secara normal. Organisme ini menjadi patogen hanya bila mencapai jaringan di luar saluran pencernaan, khususnya saluran air kemih, saluran empedu, paru-paru, peritonium, atau selaput otak, yang dapat menyebabkan peradangan pada tempat-tempat tersebut. Bila daya tahan normal hospes tidak cukup kuat, khususnya pada bayi yang baru lahir, manusia yang berusia tua, pada stadium terminal penyakit-penyakit lain, maka kuman Coliform dapat mencapai aliran darah dan menyebabkan sepsis .

2. Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus adalah bakteri Gram positif berbentuk bulat, biasanya tersusun dalam rangkaian tak beraturan seperti anggur. Bakteri ini tidak bergerak, tidak membentuk spora dan tumbuh paling cepat pada suhu 370C. Koloninya berwarna abu-abu sampai kuning emas.

Staphylococcus aureus adalah genus Staphylococcus yang menjadi patogen utama bagi manusia. Hampir setiap orang akan mengalami beberapa tipe infeksi Staphylococcus aureus sepanjang hidupnya, bervariasi dalam beratnya mulai dari keracunan makanan atau infeksi kulit ringan sampai infeksi berat yang mengancam jiwa. Salah satu penyebab terjadinya keracunan makanan adalah karena makanan yang dimasak kurang matang .

3. Escherichia coli

Escherichia coli adalah bakteri batang Gram negatif, yang habitat alaminya di saluran usus manusia dan hewan. Koloninya berbentuk bundar, cembung dan halus dengan tepi yang nyata. Di dalam usus, pada umumnya Escherichia coli tidak menyebabkan penyakit dan bahkan dapat membantu fungsi usus secara normal. Bakteri ini menjadi patogen hanya bila berada di luar usus atau di tempat lain dimana flora normal jarang terdapat. Tempat yang sering terinfeksi oleh bakteri ini adalah saluran kemih, saluran empedu, dan tempat-tempat lain di rongga perut. Escherichia coli menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan terjadinya diare.

4. Salmonella

Infeksi oleh bakteri genus Salmonella disebut Salmonelosis. Infeksi ini menyerang saluran gastrointestin yang mencangkup perut, usus halus, dan usus besar atau kolon. Gejala yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung Salmonella adalah timbul rasa sakit perut yang mendadak dengan diare encer, seringkali mual, muntah dan demam dengan suhu 380C sampai 390C. Gejala ini ada hubungannya dengan endotoksin tahan panas yang dihasilkan oleh Salmonella .

Salmonella mudah tumbuh pada media perbenihan biasa. Bakteri ini membentuk asam dan kadang-kadang gas dari hasil fermentasi glukosa dan manosa dan biasanya membentuk H2S. Salmonella dapat hidup dalam air beku untuk jangka waktu yang cukup lama, resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium tetrationat dan natrium deoksikolat yang menghambat bakteri enterik lainnya.

Beberapa spesies Salmonella dapat menyebabkan infeksi makanan diantaranya Salmonella enteritidis var. Typhimurium dan varietas lainnya serta Salmonella choleraesuis. Bakteri ini adalah bakteri Gram negatif, motil, tidak membentuk spora, dapat memfermentasi glukosa, tetapi tidak memfermentasi laktosa atau sukrosa.

5. Clostridium perfringens

Clostridium perfringens umumnya terdapat di alam, misalnya dalam daging mentah dan tinja hewan. Bakteri ini juga merupakan penyebab utama keracunan makanan. Keracunan makanan ini paling baik dicegah dengan menghindarkan penghangatan atau pendinginan makanan yang telah dimasak, secara berkelanjutan.

 

Jenis Pengelolaan pencemaran udara Januari 3, 2009

Diarsipkan di bawah: Tek. Lingkungan — gedbinlink @ 2:11 am
Tags:

Pengendalian pencemaran udara adalah pengenceran dan pengendalian pencemar pada sumber. Atmosfer memiliki kemampuan alami yang disebut self cleaning. Perlengkapan pengendali pencemaran udara prinsipnya mengikuti proses penyisihan partikel dan gas pencemar di atmosfer. Konsep dasar pengendalian pencemaran udara adalah improvisasi dispersi,modifikasi proses,penggunaan alat pengendali,daur ulang dan mengakhiri siklus zat pencemar. Alat pengendali pencemaran udara harus didasarkan pada ukuran partikel,efisiensi penyisihan yang ingin dicapai, besarnya aliran gas, waktu pembersihan dan karakteristik khusus partikel. Pengendali partikulat atau debu adalah settling chamber,cyclone, Electrostatic Precipitator (ESP), Filtrasi, scrubber sedangkan pengendali fasa gas adalah scrubber, absorpsi, adsorpsi, condensation, combustion dan biofiltrasi.

 

Ergonomi dan produktivitas Desember 27, 2008

Diarsipkan di bawah: Tek. Lingkungan — gedbinlink @ 3:44 am
Tags:

Masalah ergonomi sangat erat kaitannya dengan alat,aktivitas,serta produk yang dihasilkan oleh manusia.Ergonomi merupakan suatu keilmuwan yang multidisiplin,mempelajari pengetahuan dari ilmu kedokteran,biologi,psikologi dan sosiologi. Pada prinsipnya disiplin ergonomi mempelajari apa akibat jasmani,kejiwaan dan sosial dari teknologi dan produknya terhadap manusia. Maksud dan tujuan dari ergonomi adalah mendapatkan rancangan sistem manusia-mesin yang optimal,melibatkan teknologi biomekanik, antropomemtri teknik berkaitan dengan kemampuan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikan mesin. Tujuan utamanya adalah terciptanya desain sistem manusi-mesin yang terpadu sehingga efektivitas,produktivitas dan efisiensi kerja bisa tercapai secara optimal serta mendapatkan sistem serta lingkungan kerja yang cocok,aman, nyaman dan sehat. Dengan demikian ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat,kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut dengan baik. Manusia tidak lagi harus menyesuaikan dirinya dengan mesin yang di operasikan melainkan sebaliknya,mesin dirancang memperhatikan kelebihan dan keterbatasan manusia. Fokus perhatian ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek manusia di dalam perencanaan man-made objects dan lingkungan kerja. Dengan demikian jelas bahwa pendekatan ergonomi akan mampu menimbulkan produktivitas,efektivitas dan kenikmatan pemakaian dari peralatan fasilitas maupun lingkungan kerja yang dirancang

 

K3 di kantor Desember 27, 2008

Diarsipkan di bawah: Tek. Lingkungan — gedbinlink @ 3:04 am
Tags:

Pekerjaan merupakan aktivitas rutin, bekerja di perkantoran tidaklah lepas dari gejala penyakit jabatan. Salah satunya adalah gejala sick building syndrome yang ditandai dengan keluhan cepat lelah,hidung mampat,sakit kepala,kulit kemerahan,tenggorokan kering,iritasi mata,lemah dan lain-lain. Dalam UU no23/1992,tentang kesehatan pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap tempat kerja,khususnya tempat yang memiliki risiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya,untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal,sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. Hal-hal yang berhubungan pelaksanaan k3 perkantoran,yang pada dasarnya harus memperhatikan dua hal yaitu indoor dan outdoor. Konstruksi gedung beserta perlengkapan dan operasionalisasi terhadap risiko bahaya di kantor. permasalahan dan rekomendasi yang perlu dilakukan di kantor terkait kode dan aturan pelaksanaan k3 adalah jaringan atau sumber elektrik,kualitas udara, pencahayaan,kebisingan,display unit ,hygiene dan sanitasi, psikososial termasuk budaya kerja, maintenance alat dan training, ergonomik komputer.

 

Optimasi Induksi Embriogenesis Somatik Pinus merkusii Jung & Devr. Desember 22, 2008

Diarsipkan di bawah: Biologi — gedbinlink @ 6:16 am
Tags:

Optimasi Induksi Embriogenesis Somatik Pinus merkusii Jung & Devr.

Melalui Aplikasi Teknik Pemotongan Ujung Kalaza Eksplan

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan induksi embriogenesis somatik pada Pinus merkusii melalui aplikasi teknik pemotongan ujung kalaza eksplan yang ditanam dalam medium DCR yang mengandung 2,4-D dan BAP. Konsentrasi 2,4-D yang digunakan adalah 7μM, 9μM dan 11μM sedangkan BAP adalah 2 μM, 3 μM dan 4 μM. Eksplan yang digunakan adalah megagametofit yang mengandung embrio zigotik muda. Percobaan diulang sebanyak 3 kali. Setelah 3 bulan kultivasi dalam kondisi gelap, eksplan menunjukkan beberapa respon seperti perbesaran jaringan, pembentukan kalus, perkecambahan dan embriogenesis somatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pemotongan ujung kalaza tidak berpengaruh terhadap peningkatan induksi embriogenesis somatik. Besarnya induksi embriogenesis somatik pada megagametofit yang dipotong dengan yang tidak dipotong adalah sama, yaitu 9,63%. Bagaimanapun, penambahan konsentrasi 2,4-D (9μM dan 11μM ) ke dalam medium cenderung menurunkan keberhasilan induksi embriogenesis somatik. Disisi lain, teknik pemotongan ujung kalaza megagametofit ternyata dapat meningkatkan pembentukan kalus dan perbesaran jeringan. Pada penelitian ini ditemukan bahwa keberhasilan induksi embriogenesis somatik lebih ditentukan oleh karakter megagametofit (eksplan). Embrio somatik lebih banyak muncul dari megagametofit berwarna putih susu.


Kata kunci : Pinus merkusii, 2,4-D, BAP, teknik pemotongan ujung kalaza, embriogenesis somatik

 

“Analisis Penentuan Posisi Diferensial Menggunakan Receiver GPS Tipe Navigasi” Desember 22, 2008

Diarsipkan di bawah: geodesi — gedbinlink @ 6:02 am
Tags:

ABSTRAK

Penelitian tugas akhir ini melakukan penambahan dalam inovasi pengambilan dan penyimpanan data pengamatan dari receiver GPS tipe navigasi. Receiver GPS tipe navigasi yang biasanya langsung menghasilkan data absolut berupa koordinat, dipakai untuk pengamatan GPS secara diferensial. Penelitian ini menggunakan data kode C/A dan data fase L1. Saat pengambilan data receiver navigasi tersebut dihubungkan kedalam perangkat keras dan lunak khusus, kemudian dilakukan pengamatan secara diferensial terhadap titik referensi yang diamati oleh receiver GPS geodetik. Pengolahan baseline dibagi kedalam empat macam yaitu baseline sangat pendek (54.794 m), baseline pendek (0.583 km), baseline sedang (7.722 km) dan baseline panjang (95.314 km) dengan menggunakan data broadcast ephemeris dan precise ephemeris.. Hasil dari penelitian ini pada umumnya menunjukan penyimpangan koordinat pengamatan dengan GPS navigasi terhadap geodetik berkisar pada nilai sub-meter (desimeter). Penyimpangan koordinat terkecil terjadi pada pengamatan baseline sangat pendek dan penyimpangan koordinat terbesar terjadi pada pengamatan baseline panjang. Hasil penelitan juga menunjukan koordinat yang dihasilkan dengan data precise ephemeris kisaran penyimpangan koordinatnya tidak terlalu signifikan dibanding data hasil broadcast ephemeris, sehingga tidak efektif bila menggunakan data precise ephemeris.

Kata kunci : GPS, diferensial, navigasi, fase

 

lipid Desember 22, 2008

Diarsipkan di bawah: Biologi — gedbinlink @ 5:44 am
Tags:

LEMAK

Lipida adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air tapi dapat diekstraksi dengan pelarut non polar seperti khloroform, eter, benzena, alcohol, aseton, dan karbondisulfid. Senyawa organik ini terdapat dalam semua sel dan berfungsi sebagai :

1. Penyimpan energi dan transpor

2. Struktur membran

3. Kulit pelindung, komponen dinding sel

4. Penyampai kimia

Beberapa senyawa lipida mempunyai aktivitas biologis yang sangat penting dalam tubuh, diantaranya vitamin dan hormon. Ditinjau dari sudut nutrisi, lemak merupakan sumber kalori penting disamping berperan sebagai pelarut berbagai vitamin.

lipidLipida dapat dikelompokkan menurut sifat kimia dan sifat fisiknya. Bloor membagi lipida sebagai berikut:

1. Lipida Sederhana

Kelompok ini disebut juga homolipida yaitu suatu bentuk ester yang mengandung karbon, hydrogen, dan oksigen. Jika dihidrolisis, lipida yang termasuk ini hanya menghasilkan asam lemak dan alcohol. Lipida sederhana ini dapat dibagi kedalam tiga golongan, yaitu:

a. Lemak, ester asam lemak dan gliserol

b. Lilin, ester asam lemak

2. Lipida Majemuk

Kelompok ini berupa ester asam lemak dengan alcohol yang mengandung gugus lain, contohnya fosfolipida, serebrosida (glikolipida), sulfolipida, amino, lipida, dan lipoprotein.

3. Derivat Lipida

Derivat lipida merupakan hasil hidrolisis kelompok yang telah disebut terdahulu. Termasuk ke dalam golongan ini ialah asam lemak, gliserol, steroid, alcohol, aldehida, dan keton.

Banyak lipida yang mempunyai sifat fisik amfipatik. Istilah amfipatik yang semula digunakan oleh Hartley pada tahun 1936, memberikan turunan hidrokarbon yang mempunyai satu bagian (polar) “bersimpati” dengan suasana air dan satu bagian hidrokarbon (hidrofobik) yang tidak bersimpati dengan suasana air.

Asam lemak jarang terdapat bebas di alam tetapi terdapat sebagai ester dalam gabungan dengan fungsi alcohol. Kita dapat membuat beberapa penyamarataan mengenai asam lemak, walaupun ada perkecualian seperti yang akan kita lihat.

1. Asam lemak pada umumnya adalah asam monokarboksilat berantai lurus.

2. Asam lemak pada umumnya mempunyai jumlah atom karbon genap.

3. Asam lemak dapat dijenuhkan atau dapat mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap.

Berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap, asam lemak terbagi menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Hewan-hewan tingkat yang lebih tinggi dapat mengadakan biosintesa asam-asam lemak jenuh dan yang mono tak jenuh dari sumber-sumber lain seperti karbohidrat. Asam-asam linoleat dan linolenat dan asam-asam lemak poli tak jenuh bertingkat lebih tinggi tidak dapat dihasilkan pada hewan bertingkat lebih tinggi dan karena itu diistilahkan asam lemak essensial.

Garam asam lemak biasanya disebut sabun. Daya pembersih sabun bertumpu pada sifat amfipatrik molekul sabun. Dengan ion Ca++ dan Mg++ sabun dapat membentuk garam Ca atau Mg yang mengendap. Oleh karena itu, apabila dalam air terdapat ion-ion tersebut atau yang disebut air sadah. Sabun mempunyai sifat dapat menurunkan tegangan permukaan air. Hal ini tampak dari timbulnya busa apabila sabun dilarutkan dalam air dan diaduk.

Asam lemak tak jenuh mudah mengadakan reaksi pada ikatan rangkapnya. Dengan gas hidrogen dan katalis Ni dapat terjadi reaksi hidrogenasi, yaitu pemecahan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal. Proses hidrogenasi ini mempunyai arti penting karena dapat mengubah asam lemak yang cair menjadi asam lemak padat. Ini adalah salah satu proses pada pembuatan margarin dari minyak kepala sawit.

Lemak netral disebut juga asil gliserol atau gliserida. Lemak ini merupakan komponen utama lemak simpanan pada sel-sel hewan dan tumbuhan, terutama pada jaringan adipose vertebrata.

Sifat-sifat fisik lemak netral mencerminkan susunan asam lemak dari lemak. Sebagai dalil umum adalah titik lebur suatu asam lemak berkurang dengan bertambahnya ketidakjenuhan dan berkurangnya bobot molekulernya.

Lemak hewan dan tumbuhan mempunyai susunan asam lemak yang terkandung didalamnya diukur dengan bilangan iodium. Bilangan iodium adalah banyaknya gram iodium yang dapat bereaksi dengan 100 gram asam lemak. Jadi, makin banyak ikatan rangkap, makin besar bilangan iodium.

Dengan proses hidrolisis lemak akan terurai menjadi asam lemak gliserol. Proses ini dapat berjalan dengan menggunakan asam, basa, atau enzim tertentu. Proses hidrolisis yang menggunakan basa menghasilkan gliserol dan garam asam lemak atau sabun. Oleh karena itu, proses hidrolisis yang menggunakan basa disebut proses penyabunan.

Oksidasi asam lemak tidak jenuh akan menghasilkan peroksida dan selanjutnya akan terbentuk aldehida. Inilah yang menyebabkan terjadinya bau dan rasa yang tak enak atau tengik. Kelembapan udara, cahaya, suhu tinggi dan adanya bakteri perusak adalah factor-faktor yang menyebabkanterjadinya ketengikan lemak.

Lilin adalah ester dari asam lemak berantai panjang dengan alcohol monohidrat. Terdapat sebagai pelidung kulit dan bulu, pelindung daun danbuah, atau sebagai sekresi insekta. Lilin tak larut dalam air.

Fosfolipida adalah suatu gliserida yang mengandung fosfor dalam bentuk ester asam fosfat. Fosfolipida banyak terdapat pada bakteri, jaringan tumbuhan dan hewan. Fosfolipida yang disebut fosfatidil kolin biasanya didapat pada membran dan hanya sedikit sekali fosfolipida ini terdapat pada lemak simpanan.

Sfingolipida merupakan lipida yang tak mengandung gliserol amfipatik, terutama berlimpah dalam jaringan otak dan syaraf. Lipida ini diturunkan dari sfingosin. Sfingolipida yang paling berlimpah adalah sfingomyelin yang terdapat dalam jaringan otak dan saraf dan dalam bagian lipida darah.

Terpena dan steroid adalah lipida yang tak dapat disaponifikasikan yang berarti bahwa hidrolisis alkali tak menghasilkan sabun. Struktur umum yang biasa bagi semua steroida adalah kerangka siklompentano perhidro penantren. Steroid banyak terdapat di alam. Diantaranya dalam jumlah yang terbatas tetapi mempunyai aktivitas biologis yang penting yaitu asam empedu, hormon seks betina dan jantan, hormon korteks adreval dan beberapa racun steroid yang terdapat dalam jumlah lebih banyak yakni golongan sterol. Contohnya kolesterol, lanosterol, fitosterol, dan mikosterol.

 

Arsitektur Dinding Sel Desember 22, 2008

Diarsipkan di bawah: Biologi — gedbinlink @ 5:44 am
Tags:

Arsitektur Dinding Sel dapat Memperpanjang Coleoptile pada tanaman jagung (Zea mays).

Penyusun dinding sel utama pada tanaman ini terdiri atas mikrofibril selulosa, glucuronoarabinoxylans ( GAXs), dan campuran antara pertalian dari b-glucans, bersama-sama dengan sejumlah lebih xyloglucans, glucomannans, pektin, dan suatu jaringan dari unsur polyphenolic.

Bahan kimia yang terkandung dalam jaringan epidermis dengan mesofil berbeda hal ini diungkapkan berdasarkan hasil distribusi kelimpahan bahan kimia yang ditemukan dengan menggunakan mikrospectroscopy inframerah. Perbedaan distribusi ini ditemukan pada bagian coleoptile tanaman jagung.

Glucomannans dan asam uronic yang mengalami esterifikasi jumlahnya lebih berlimpah pada bagian epidermis sedangkan b-glucans jumlahnya lebih melimpah pada jaringan mesofil. Hal ini ditetapkan berdasarkan lokalisasi glucan yang telah ditetapkan oleh immunocytochemistry di (dalam) mikroskop elektron dengan pengujian kadar logam biokimia secara kuantitatif.

Percobaan ini menggunakan pancaran scanning emisi elektron secara mikroskopi, microspectroscopy inframerah, dan pengamatan terhadap karakteristik biokimia pada rangkaian polimer yang kemudian dapat menandai ciri khas struktur dinding sel epidermis.

Serangkaian proses ekstraksi polisakarida yang spesifik dengan enzim pencernaan dari b-glucans menghasilkan dua daerah beda di dalam dinding sel. pertama, daerah yang kaya akan b-glucans, yang jumlahnya sama besar dengan GAXs, dengan jumlah arabinosyl dan glucomannans yang rendah disekitar mikrofibril. ke dua, unsur GAX yang digantikan dengan residu arabinosyl dan glucomannan tambahan yang menyediakan suatu daerah interstitial yang saling behubungan dengan b-glucan pada penutup mikrofibril. Hasil ini dijadikan sebagai model untuk menjelaskan mekanisme dinding sel secara biokimia dan biofisika pada pengenduran pertumbuhan sel pada coleoptile tanaman jagung.

Pada dinding sel primer angiospermae dibangun oleh unsur polisakarida dan phenolic. Dinding sel pada monocotil ditandai dengan adanya selulosa microfibrils yang diikat oleh glucuronoarabinoxylans ( GAXs) dan suatu jaringan yang tersusun atas unsur polyphenolic. b-glucans pada awalnya tidak ditemukan pada sel meristematik tetapi hanya 20 % yang mengeringkan massa dinding sel pada masa pemanjangan coleoptile.

Coleoptile biasanya digunakan sebagai model untuk melakukan pengujian terhadap perubahan yang dinamis pada arsitektur sel selama terjadinya masa pemanjangan sel, adanya perubahan komposisi polimer dan bangunan pada organ/ bagian sel menandakan bahwa bagian tanaman tersebut mengalami pengembangan sel.

Bahan dan Metoda :

Benih jagung hybrida direndam semalam dalam air pada suhu lingkungan (30o C) dan disimpan pada tempat gelap. Coleoptile akan dihasilkan dengan panjang sekitar 3,5 cm. Kemudian Coleoptile di kupas dengan mengambil bagian mesofil dan epidermis kemudian di masukkan kedalam air yang telah diionisasi. Ambil bagian lengkap dengan epidermis atau tanpa epidermis atau hanya mesofil saja atau kedua-duanya. Untuk proses ekstraksi kulit epidermis di apungkan pada media ekstraksi, tapi sebelumnya kulit epidermis ini dipanaskan pada suhu 65o C di dalam air yang berionisasi dan sel mesofil diproses melalui FTIR atau FESEM, sedangkan unsur pectic diekstraksi dari HCl dengan pH 7 atau dengan 100mM CDTA didalam 20 mm fosfat kalium. Sedikitnya 30 kulit yang telah mengalami perawatan di gunakan untuk FTIR dan studi biokimia.

Bila dilakukan proses dengan FESEM, bagian kulit epidermis yang kering diberi perlakuan dengan Asam asetat selulosa, kemudian dibekukan dalam N2 cair pada suhu – 210o C. Kemudian direkam pada Semmicrographs pada 5kV dengan menggunakan gulungan film untuk merekam komposisi dan kandungan sel epidermis tersebut.

Pendeteksian adanya kandungan tertentu atau b-glucans pada dinding sel dapat dilakukan dengan antibodi monoklonal dengan serum albumin yang diberi asetil. Kemudian banyaknya butiran atau komposisinya dapat dilihat dengan melakukan scanning mikroskopi.

Hasil :

Dinding Sel epidermis dan mesofil berbeda secara kimiawi. sekitar 30% sellulosa ditemukan berkumpul pada bagian sel mesofil sedangkan pada sel epidermis dengan dinding yang tebal ditemukan hampir 60% sellulosa. Epidermis mengandung + 60 mg dari b-glucan per mg dinding sel, sedangkan sel mesofil berisi hampir 200 mg dari b-glucan per mg dinding sel. Perbandingan ini menentukan struktur dari dinding sel dan pemanjangan sel coleoptile pada tanaman jagung, polisakarida yang netral dari epidermis dan sel mesofil pada pemanjangan sel pada tanaman jagung.

Diskusi :

Komposisi polisakarida selulosa dan non-sellulosa dan unsur phenolic di dalam Coleoptile tanaman jagung didasarkan semata-mata pada campuran sel epidermis, mesofil dan ikatan pembuluh. Lapisan mesofil berisi lebih sedikit metil atau phenolic ester, dan lebih sedikit campuran cincin phenolic, dibanding sel epidermis dan ikatan pembuluh beberapa komponen karbohidrat.

Metil ester ditemukan dalam jumlah sedikit pada sel epidermis dan memiliki komposisi polisakarida 82% dibandingkan pada sel mesofil hanya 75%. Campuran phenolic yang ditemukan pada jaringan vaskuler/ikatan pembuluh menyebabkan terjadinya struktur lignifikasi pada dinding sel. Perbedaan yang utama dapat dilihat dari meningkatnya sejumlah glucomannans di dalam epidermal dinding sel, dan peningkatan b-glucans di dalam mesofil dinding sel.

corn21Bahan kimia berupa sellulosa mikrofibril dibelah oleh suatu enzim endo-b-d-glucanase, yang dapat menyebabkan dinding sel kendur dan membiarkan tekanan turgor samapai keseluruh sel. Dua pengamatan yang mendukung hipotesis ini diantaranya exo- dan endo-b-d-glucanase polipeptida dan aktivitas dinding sel selama pertumbuhan ( Inouhe dan Nevins, 1998), dan polyclonal antisera yang mengikat pada enzim ini dapat menghalangi pertumbuhan ( Hoson et al., 1992). Bagaimanapun, mekanisme dengan antisera dapat menghalangi pertumbuhan belum pernah diketahui secara memuaskan dan belum diketahui jelas dimana dan pada bagian mana di dalam jaringan tumbuhan hal ini masih dibutuhkan penelitian dan percobaan pada tahap selanjutnya.

Jadi struktur dinding sel yang terdiri atas bahan kimia dan komposisinya yang berbeda berpengaruh terhadap pembentukan dinding sel terutama pada masa pemanjangan sel pada coleoptile.